Kalau mati
sekarang, mumpung istriku masih cantik
Pasti dia
bisa cari pengganti super keinginannya
Mumpung
“mungkin” masih ada yang mau memandi-kafaniku dengan gratis
Mumpung masih
ada yang mensholat-kuburkan mayatku, agar tak bau
Mumpung keranda
belum pecah rodanya
“berharap”
setidaknya masih ada
Kalau mati
sekarang, mumpung murah
Mumpung masih ada
tanah kuburan Cuma-Cuma, tanpa sewa
Mumpung secarik kain
kafan belum terlalu mahal
Mumpung kayu randu
buat nisan bisa minta tetangga
Mumpung tak pelu
membuat peti mati
Tentu tak
terlalu memberatkan mengurus jasadku
Kalau mati
sekarang, mumpung tumpukan dosa membahana belum bertambah gila
Pasti
berhenti pertumbuhan gilanya
“semoga” ada
setitik cahaya tuk dilihat
“semoga” ada
semanik cendera mata tuk dikenang
“berangan”
bekas samar tertinggal direrumputan
Kalau mati
sekarang, hmmmmmmm
“semoga” secuil
do’a mengiring pengurugan jasadku
“semoga” setahun
sekali teringat sambangi gundukan tanah itu,
mencabut-sisihkan rumput
dan dedaun kering
“semoga” lelehan do’a
anak-anakku mengalir bersama sunyi
“semoga” ruang
tunggu itu tak bosan lalu menghimpitku
“roja” titik
cahaya menemani tak kehabisan nyala
Kalau mati
sekarang, tapi anak-nakku masihlah kecil
“jelas” belum
cukup dipahaminya rute jalan lurus itu
Jangan-jangan
tersesat dijalan berliku-bercabang-cabang
“jelas” belum
dimengertinya si sholeh yang mendo’a
Jangan-jangan
dicaci-bencinya buah pikir-tanganku tak seberapa itu
“jelas” belum
cukup ditapakinya jejak-jejak perjanjian hidupnya
Jangan-jangan
disobek-bakarnya bongkah prasasti jiwa-hatinya, perjanjian pra kelahirannya
perjanjian pra kelahirannya .........
Way Jepara, 18 Maret 2016